Advertisements

Kulihat Bibirmu Bergetar

Sebuah cerita bisa bermakna apa saja bagi siapa saja. Ada yang menganggapnya sebatas hiburan, sebagai jeda dari yang rutin. Yang lain melihatnya sebagai pelajaran, tempat moral-moral ditemukan dan dicoba untuk dipraktikan. Atau mungkin sebagai teman sederajat, karib seperjalanan, tempat berdialog untuk memahami dan merasai apa artinya menjadi manusia dan untuk itu bersikap manusiawi. Tapi, sebuah cerita bisa juga berarti tempat sembunyi. Sebuah gua yang menyediakan dirinya dijadikan tempat pelarian bagi mereka yang ketakutan.

Ketakutan terhadap apa? Kau tiba-tiba bertanya.

Apa saja, jawabku. Semua yang ada di bawah dan di atas langit dan semua yang terkait dengan yang hidup. Dengan H besar, kau tahu?

Tetapi mengapa bisa begitu?

Bisa saja, jawabku. Kau kenal Gordon Gekko?

Tahu. Kau menjawab singkat tak sabar, merasa diremehkan.

Berarti kau tahu salah satu ucapannya kepada si muda Buddy Fox.

Kau memutar kedua bola matamu yang besar ke atas, mengingat-ngingat. Kebiasaanmu yang paling kusukai.

Aku lupa persisnya. Tapi aku tahu yang kau maksudkan: fiksi dibuat dan diperuntukan sebagai kompensasi bagi mereka yang kalah dan gagal bersaing di dunia nyata. Betul’kan?

Aku mengangguk. Dan karena itu disukai, aku berkata.

Aku tahu kau pasti tak merasa puas. Karena itu kau bertanya lagi. Tapi mengapa kau percaya si Gekko itu? Kau’kan tahu, kerakusannya yang membuatnya berbicara seperti itu.

Bukan kerakusannya, aku menjawab, melainkan kesombongannya. Tapi, ya, aku mempercayai ucapannya. Setidaknya bila dilihat dalam kasus-kasus tertentu.

Aku tak percaya, kata kau keras kepala. Aku juga menyukai sifatmu yang ini.

Mengapa tak percaya?

Tentu saja aku tak percaya, jawabmu. Aku tak pernah melihat seseorang seperti yang dituduhkan si Gekko itu. Cerita hanya untuk menina-bobokan? Terlalu sinis buatku.

Kau ingin bukti?

Benar.

Baiklah, kataku. Itu aku.

Kamu?

Aku mengangguk.

Sebuah cerita adalah sebuah dunia. Dengan ruang dan waktunya sendiri. Sebuah semesta lain yang mandiri. Mutlak pada dirinya dan selesai. Hanya pembaca dan penafsir yang membuatnya tak selesai dan tak akan pernah selesai. Karenanya sebuah cerita berarti juga sebuah kehidupan.

Dan inilah yang membuat cerita menjadi tempat sembunyi. Mereka yang ketakutan berlari dari satu kehidupan yang satu ke kehidupan yang lain. Berpindah dari satu dunia yang dianggap nyata ke satu dunia yang dianggap fiksi.

Mereka tak mengerti bagaimana dunia ini berjalan. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Mereka tak pernah menemukan kuncinya. Inilah ketidaktahuan. Dan ketidaktahuanlah akhirnya yang melahirkan ketakutan. Sekali ketakutan bercokol, ukuran-ukuran biasa tak lagi berlaku. Namun, tentu saja, objek dari rasa takut itu tak selalu bersifat besar dan mutlak. Banyak yang mengambil bentuk peristiwa kecil sehari-hari.

Bodoh sekali, kau berkata.

Memang bodoh, kataku.

Dan kau mempercayainya. Kau salah satunya. Boleh kutahu alasannya?

Baiklah, kataku. Mungkin kau tak tahu, tapi aku tak pernah mempercayai orang. Karenanya aku tak pernah menitipkan hatiku pada orang lain. Aku..

Tunggu. Tunggu. Kau menyela. Lalu aku bagaimana? Bukankah kau sering bilang: hei, simpan hatiku baik-baik disaku hatimu, oke? Aku menitipkannya.

Kita saling menitipkan’kan?

Tentu saja, jawabku sambil tersenyum.

Lantas? Kau bertanya tak mengerti.

Justru itu alasannya, aku berkata. Kau buktinya.

Kau menatapku tak mengerti.

Kau adalah khayalanku, aku berkata. Kau hanya imajinasiku.

Matamu membesar. Kau tak percaya. Tapi kau tetap bertanya. Tapi mengapa?

Karena aku takut tak akan menemukanmu di dunia nyata, jawabku. Dan mungkin memang tak akan pernah. Itulah mengapa aku menyukaimu. Ingat Gekko? Kau hanya..

Sebatas kompensasi, kau berkata pelan.

Aku mengangguk.

Kau menarik nafas dengan berat. Lalu terdiam lama sekali.

Kau marah? Tanyaku.

Kau tak menjawab. Tapi kulihat bibirmu bergetar.

Di Suatu Titik..

Tiba-tiba, dengan lugu, dua puluh empat tahun berlalu begitu saja. Cepat, seperti anak panah yang sulit mengingat kapan ia ditolakkan busur; tahu-tahu ia telah sampai di sasaran. Dua puluh empat tahun berlalu begitu saja; dan aku hanya anak panah yang masih saja meraba-raba arah sasarannya.

Waktu memang tak pernah menghitung mundur atau menengok balik. Ia tak pernah memanggul masa lalu di pundaknya. Hanya saja, manusia seringnya tak seperti itu. Ia terkadang rajin menemui lagi jalan-jalan yang telah ditapakinya, lorong-lorong yang telah dimasukinya, dan sudut-sudut yang telah dijumpainya; dengan sesal, dengan syukur, dan mungkin dengan harap. Kita terkadang suka, terlalu suka malah, menziarahi masa lewat. Termasuk aku.

Sesungguhnya, tak istimewa benar kejadian-kejadian yang mengisi dua puluh empat tahunku ketika menemani bumi memutari matahari. Mungkin ada banyak tawa di situ, ada banyak gembira, bersama peristiwa-peristiwanya yang berharga. Dan kupikir, aku tak sudi menggantinya dengan apapun. Namun, bila harus jujur, aku selalu merasa ada lebih banyak kecewa di sana. Aku tak tahu, adakah ini hanya semacam kesentimentilan, atau mungkin kecenderungan, untuk memberikan porsi yang kelewat besar buat pendramatisasian. Mungkin saja…

Tapi mungkin, terhadap itu, terhadap rasa kecewa itu, aku bisa berbuat sesuatu. Rasa kecewa itu bukan semacam sampah yang kemudian selesai di tempat pembuangan. Mungkin, rasa kecewa itu, lebih mirip semacam emas hitam yang menunggu untuk di proses, lebih jauh, agar ia menjadi bahan bakar untuk menggerakan mesin hati. Agar diri bisa berjalan dan berlari lagi.

Maka, jika masih cukup lama diberi izin, aku ingin terus menemani bumi memutari matahari beberapa kali lagi. Dan suatu hari nanti, ketika manusia-manusia antri untuk melewati gerbang ukhrawi, aku berharap cukup layak melewatinya.

Dan diizinkan memandang: Wajah Suci-Nya..

Untuk 7 Juni 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!